← Back to blog

Belajar dari Membangun Autoencoder untuk Tugas Akhir

1 min read

Konteks Project

Semester ini kelompok kami membangun sistem analitik untuk Smart Campus — menggunakan data performa mahasiswa (1.194 sampel) untuk menemukan pola tersembunyi tanpa label.

Pilihan arsitektur: autoencoder PyTorch untuk dimensionality reduction, lalu K-Means clustering pada latent space.

Kenapa Autoencoder, Bukan PCA?

PCA adalah linear transformation. Autoencoder bisa menangkap non-linear relationships dalam data — relevan untuk data perilaku mahasiswa yang kompleks.

Arsitektur yang kami pakai:

  • Encoder: 784 → 128 → 64 → 32 → latent(16)
  • Decoder: mirror dari encoder
  • Loss: MSE reconstruction loss
  • Optimizer: Adam, lr=1e-3

Hasil yang Menarik

Clustering pada latent space (k=3) menghasilkan silhouette score yang lebih tinggi dibanding clustering langsung pada raw data. Artinya autoencoder berhasil mengekstrak representasi yang lebih meaningful.

Tiga cluster yang terbentuk berkorelasi dengan pola akademik: mahasiswa high-performer, medium, dan at-risk.

Lesson Learned

Validasi clustering itu lebih dari sekadar silhouette score — interpretabilitas cluster sama pentingnya untuk use case akademik. Dan dokumentasi pipeline dari awal jauh lebih mudah daripada rekonstruksi di akhir.